Jangan salahkan aku bila kau rebah dalam lenguh dan kehilangan nama. Aku bukan pembohong, hanya terlalu jujur dalam cara yang tak pernah diajarkan ibumu.
panduan.
// 001 : Karya ini digubah oleh ARDOR. Segala yang tertulis dalam narasi sang tokoh hanyalah jelmaan fiksi semata. Meski beberapa elemen mungkin terinspirasi oleh kehidupan nyata, kisahnya tidak memiliki kaitan dengan peristiwa atau pengalaman yang sesungguhnya.// 002 : Kisah-kisah yang dipaparkan dalam akun ini diberi penanda Dead Dove: Do Not Eat. Narasi di dalamnya mengandung unsur seksual, kekerasan, dan body horror. Kami menyarankan untuk membaca dengan bijak, karena tema-tema ini dapat menimbulkan kecemasan atau ketidaknyamanan.// 003 : Menulis terutama dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Jika Anda ingin mendiskusikan perihal relasi atau menulis plot jangka panjang, jangan ragu untuk menghubungi kami melalui pesan langsung. Kami akan membalas sesegera mungkin.// 004 :. Kami menerapkan follow selektif dan hanya menerima follow serta mutual dari retweet menfess, plot untuk follow, atau jika Anda memiliki izin kami untuk menjadi mutual. Selain itu, Anda juga bebas untuk memblokir, unfollow, atau soft-block kami dari list mutual Anda jika diinginkan.
kisah.
| Nama | Brahmantya Dana |
| Alias | Bram |
| Usia | 32 Tahun |
| Tanggal lahir | 27 juli |
| Orientasi | Biseksual |
| Okupasi | Desainer Perhiasan |
// ❝Seorang bedebah yang tidak pernah merasa puas dengan hidupnya hingga ia memainkan hidup orang lain. Rayuan dan pujian mengalir deras dari bibirnya, namun tidak ada satu pun yang ia maksudkan dengan hati.❞
Segala hal dalam hidup Brahmantya Dana seakan sudah disiapkan sebelum ia sempat menginginkannya. Ia tidak belajar meminta—dunia sendiri yang belajar memberi. Ia lahir bukan sekadar dengan sendok perak di mulut, tapi juga dengan takhta di kedua genggaman tangannya.Meski dikelilingi oleh benda-benda elok berkilauan dan nilai yang nyaris tak terhingga, Brahmantya selalu merasa tidak ada yang cukup. Begitu mudahnya bagi dirinya untuk mendapatkan apa yang diinginkan, namun semakin ia diberi, semakin ia merasa tidak puas. Dunia menghamparkan segala kecantikan di bawah kakinya, tapi tak satu pun mampu memenuhi hasratnya. atau mungkin, ia belum menemukannya?_
Bekerja sebagai desainer perhiasan, Brahmantya telah melihat segalanya yang gemerlap. Emas yang dicium api, berlian yang memantulkan nyala hidup, safir yang birunya menyaingi langit cerah. Namun tak satu pun dari itu menyaingi apa yang ia temukan dalam mata manusia.Kilau yang tak bisa ditempa, tak bisa dipoles, karena ia hidup.Baginya, mata adalah perhiasan yang sesungguhnya. Tak ada batu yang mampu meniru terangnya tatapan yang tengah jatuh cinta, atau beningnya sepasang mata yang menangis. Dan Brahmantya ingin menyimpannya. Ingin mengabadikannya sebelum dunia sempat merusaknya.
relasi.
akan segera ditambahkan... berkenan mengisinya?
